Sitetiva.com
ArtikelπŸ’¬ Konsultasi Gratis
Berapa Biaya Pembuatan Website di Indonesia? Rincian Jujur per Jenis

Berapa Biaya Pembuatan Website di Indonesia? Rincian Jujur per Jenis

6 menit bacaOleh Fadhil Muhammad Hafizd

Pertanyaan pertama yang hampir selalu masuk ke WhatsApp kami: β€œBikin website itu habis berapa?” Jawaban jujurnya tergantung β€” tapi β€œtergantung” saja tidak membantu siapa pun. Jadi di sini kami rinci angkanya, apa yang membuatnya bergerak, dan biaya apa saja yang sering baru muncul belakangan.

Kisaran biaya menurut jenis website

Angka β€œharga pasar” di bawah ini adalah kisaran yang lazim ditawarkan vendor di Indonesia berdasarkan riset publikasi vendor dan agensi. Kolom Sitetiva adalah harga mulai kami.

Jenis websiteHarga pasarSitetiva
Landing page (1 halaman)Rp 1,5 – 3 jutaMulai Rp 749 ribu
Company profileRp 3 – 7 jutaMulai Rp 1,49 juta
Toko online / katalogRp 5 – 15 jutaMulai Rp 2,49 juta
Aplikasi web customRp 10 – 25 juta+Mulai Rp 4,99 juta
Revamp / redesignRp 2 – 5 jutaMulai Rp 999 ribu

Rentangnya lebar karena β€œcompany profile” bisa berarti lima halaman sederhana, bisa juga berarti dua puluh halaman dengan blog, multi-bahasa, dan integrasi CRM. Yang menentukan bukan namanya, tapi isinya.

Apa yang sebenarnya membuat harga naik

Kalau dua penawaran berbeda jauh, biasanya salah satu dari hal ini penyebabnya:

  • Jumlah halaman dan section. Ini faktor paling langsung. Setiap halaman baru berarti desain, penulisan, dan pengujian tambahan.
  • Desain custom atau template. Template jauh lebih murah tapi tampilan Anda akan mirip ratusan situs lain. Desain custom memakan waktu berkali lipat.
  • Fitur dinamis. Form, pencarian, filter produk, keranjang belanja, login, dashboard β€” masing-masing menambah logika yang harus dibangun dan diuji.
  • Siapa yang menyiapkan konten. Kalau teks dan foto Anda sediakan, biaya turun. Kalau vendor yang menulis dan mencari gambar, itu pekerjaan tersendiri.
  • Jumlah revisi. Penawaran murah sering membatasi revisi satu kali, lalu menagih per putaran berikutnya.
  • Overhead vendor. Agensi dengan kantor, tim sales, dan project manager harus menutup biaya itu dari harga proyek Anda.
Poin terakhir yang paling sering luput. Anda tidak hanya membayar orang yang menulis kodenya β€” Anda ikut membayar semua orang di antara Anda dan dia.

Biaya lanjutan yang sering tidak disebut

Harga pembuatan hanyalah biaya awal. Yang berjalan terus:

  • Domain β€” sekitar Rp 150–300 ribu per tahun untuk .com atau .id, dibayar selamanya selama situs hidup.
  • Hosting β€” sangat bervariasi. Situs statis modern bisa dihosting gratis di platform seperti Vercel; hosting tradisional mulai ratusan ribu per tahun.
  • Maintenance β€” update konten, backup, pemantauan. Kalau Anda tidak melakukannya sendiri, siapkan biaya bulanan.
  • Perpanjangan SSL β€” sudah gratis di kebanyakan platform modern, tapi masih ditagih terpisah oleh sebagian penyedia lama.

Minta penawaran yang menyebutkan keempatnya secara eksplisit. Kalau tidak disebut, tanyakan β€” bukan berarti vendornya nakal, tapi lebih baik tahu sekarang daripada terkejut tahun depan.

Tiga contoh perhitungan nyata

Angka di tabel masih terasa abstrak sampai ditempelkan ke kasus. Tiga skenario ini mewakili sebagian besar permintaan yang masuk ke kami.

Warung kopi yang ingin ditemukan di Google

Kebutuhannya sederhana: satu halaman berisi menu, foto tempat, jam buka, lokasi, dan tombol WhatsApp untuk pesan. Tidak perlu keranjang belanja, tidak perlu login. Ini landing page β€” di pasar Rp 1,5–3 juta, di Sitetiva mulai Rp 749 ribu, dan karena UMKM masih dipotong 20% lagi. Biaya tahunannya: domain sekitar Rp 200 ribu, hosting bisa nol kalau memakai platform statis.

Konsultan yang mengejar klien perusahaan

Di sini yang dibeli bukan halaman, tapi kepercayaan. Perlu beranda, profil, daftar layanan, portofolio atau studi kasus, dan kontak β€” sekitar lima sampai enam halaman, dengan penulisan yang rapi karena calon kliennya membaca teliti. Ini company profile: pasar Rp 3–7 juta, Sitetiva mulai Rp 1,49 juta.

Brand fashion yang menjual langsung

Butuh katalog dengan kategori, pencarian, dan halaman produk. Pertanyaan besarnya: pesan lewat WhatsApp, atau keranjang belanja dengan pembayaran otomatis? Yang pertama jauh lebih murah dan sering sudah cukup di awal. Yang kedua menambah biaya cukup besar karena melibatkan payment gateway, status pesanan, dan pengujian transaksi. Kisaran pasar Rp 5–15 juta, Sitetiva mulai Rp 2,49 juta.

Pola yang berulang: yang menaikkan biaya bukan seberapa bagus tampilannya, tapi seberapa banyak hal yang harus bergerak sendiri di belakang layar.

Murah yang wajar dan murah yang mencurigakan

Harga bisa masuk akal lebih murah kalau vendornya perorangan tanpa overhead kantor, memakai teknologi yang membuat pengerjaan lebih cepat, dan tidak memakai perantara. Itu penghematan struktural yang nyata.

Yang perlu diwaspadai justru ini: harga sangat murah tapi tidak ada penawaran tertulis, tidak jelas berapa revisinya, kode dan akses tidak diserahkan ke Anda, atau vendor tidak bisa menunjukkan hasil kerja sebelumnya. Murahnya bukan dari efisiensi, tapi dari hal yang tidak dikerjakan.

Cara membandingkan penawaran dengan adil

  1. Samakan lingkupnya dulu. Minta semua vendor menghitung untuk jumlah halaman dan fitur yang sama persis.
  2. Tanyakan berapa kali revisi termasuk, dan berapa biaya per revisi tambahan.
  3. Pastikan tertulis siapa yang menyediakan teks dan gambar.
  4. Tanyakan apakah kode sumber dan akses menjadi milik Anda setelah lunas.
  5. Minta perkiraan biaya tahunan setelah situs online, bukan hanya biaya pembuatan.

Pertanyaan yang wajib ditanyakan sebelum sepakat

Vendor yang serius akan menjawab kelima ini tanpa berputar-putar. Kalau jawabannya mengambang, itu sendiri sudah informasi.

  1. Kalau di tengah jalan saya minta tambah satu halaman, biayanya berapa? Angka yang jelas sekarang mencegah tagihan mengejutkan nanti.
  2. Setelah lunas, apakah kode sumber, domain, dan akses hosting atas nama saya? Kalau tidak, Anda menyewa, bukan memiliki.
  3. Kalau saya ingin pindah vendor tahun depan, apa yang saya bawa? Situs yang dibangun di platform tertutup sering tidak bisa dipindahkan.
  4. Siapa yang mengurus kalau website error di hari libur, dan berapa lama responsnya?
  5. Boleh saya lihat dua atau tiga hasil kerja sebelumnya yang masih online? Portofolio berupa gambar saja tidak membuktikan situsnya pernah jalan.

Pertanyaan ketiga yang paling sering dilewatkan, dan paling mahal akibatnya. Banyak pemilik usaha baru sadar situsnya tidak bisa dibawa pergi ketika sudah terlanjur ingin pindah.

Bacaan lanjutan

Kalau Anda belum yakin butuh jenis website yang mana, kami bandingkan company profile dan landing page di artikel terpisah. Kalau Anda pemilik usaha kecil dan masih ragu perlu website sama sekali, artikel website untuk UMKM membahasnya apa adanya β€” termasuk kapan jawabannya β€œbelum perlu”.

Belum yakin masuk kategori mana? Ceritakan kebutuhanmu β€” kami bantu perkirakan angkanya tanpa biaya dan tanpa komitmen.

πŸ’¬ Tanya Estimasi via WhatsApp

Baca juga

Website untuk UMKM: Perlu atau Cukup Media Sosial Saja?

Kapan UMKM benar-benar butuh website, kapan media sosial sudah cukup, dan apa yang harus ada di dalamnya kalau memang dibuat.

Company Profile atau Landing Page? Cara Memilih yang Tepat

Perbedaan nyata antara company profile dan landing page, kapan masing-masing lebih tepat, dan kesalahan mahal yang sering terjadi saat salah pilih.

Kenapa Website Anda Lambat β€” dan Apa yang Bisa Diperbaiki

Penyebab paling umum website lambat, cara mengukurnya sendiri secara gratis, dan mana yang bisa Anda perbaiki tanpa membangun ulang.